Beritahu yang lain
 

Taktik survival pada buaya

Binatang apa yang mampu bertahan hidup dari bencana zaman Kapur, yang memusnahkan dinosaurus 65 juta tahun lalu?. Banyak yang tidak menyangka, keluarga buaya adalah reptil yang selamat dari bencana zaman Kapur. Keluarga buaya yang terdiri dari 23 jenis sudah hidup lebih dari 200 juta tahun di muka Bumi, telah ada sebelum dinosaurus muncul dan hingga kini masih menghuni Bumi. Sejak lama para ahli biologi meneliti sifat-sifat buaya, untuk mengetahui apa rahasianya sehingga binatang ini bisa bertahan hidup dari kiamat yang memusnahkan reptil besar lainnya, dinosaurus. Ada seloroh dari para ahli biologi, yakni, jika ingin belajar bertahan hidup cukup lama, belajarlah kepada keluarga buaya. Salah satu karunia alam bagi buaya sehingga dapat bertahan hidup selama 200 juta tahun, adalah dilahirkan sebagai reptil berdarah dingin. Dengan begitu sirkulasi darah serta aktifitasnya ditentukan oleh dingin atau hangatnya lingkungan. Buaya seperti juga reptli lainnya tidak banyak melakukan aktifitas, dan menjemur badannya agar suhu tubuhnya naik. Bila sudah cukup hangat, buaya melakukan aktifitasnya, terutama mencari makan. Sifat unggul lainnya dari buaya, adalah pola berkembang biaknya. Secara genetis, telur buaya tidak mengandung kromosom kelamin. Telur buaya menetas menjadi anak buaya jantan atau betina, amat tergantung dari suhu sarang tempatnya menetas. Suhu sarang yang dingin atau ekstra hangat, akan menghasilkan anakan buaya berkelamin betina. Jika suhunya moderat, yang menetas adalah anak buaya jantan. Bila suhu bervariasi, maka bisa menetas buaya jantan dan betina pada satu sarang. Dalam penelitian terhadap seluruh jenis buaya yang ada di muka Bumi, terlihat pola penetasan yang serupa. Para ahli biologi menarik kesimpulan, bahwa pola penetasan semacam itu merupakan hasil adaptasi selama jutaan tahun. Namun kemudian muncul pertanyaan, bukankah dinosurus juga termasuk keluarga reptil ?. Mengapa dinosaurus musnah 65 juta tahun lalu, tetapi buaya tidak ?. Apa keunggulan buaya, sehingga bisa lolos dari bencana dahsyat akibat jatuhnya meteorit besar 65 juta tahun lalu ?.

Para ahli menduga, air-lah yang menyelamatkan buaya dari kemusnahan zaman Kapur. Dinosaurus hidup di darat, jadi merasakan langsung dampak dari perubahan iklim yang amat dahsyat. Apakah itu hujan asam atau musim dingin hebat selama ribuan tahun, langsung mempengaruhi kehidupan dinosaurus yang saat bencana menguasai daratan. Jika pola menetasnya telur dinosaurus serupa dengan buaya, maka pada cuaca dingin berkepanjangan selama ratusan atau ribuan tahun, telur dinosurus hanya menetaskan jantan atau betina saja. Akibatnya dinosaurus musnah. Sedangkan buaya habitatnya di dalam air, yang sedikit banyak mengerem dampak perubahan suhu amat drastis. Mungkin saja di suatu kawasan luas, hanya menetas buaya jantan atau buaya betina saja. Namun di kawasan lain yang relatif moderat suhunya, menetas buaya jantan dan betina. Dengan begitu perkembang biakannya tidak mengalami gangguan, atau berhenti samasekali dan pelan-pelan musnah. Tentu saja aksioma ini harus dikbuktikan lebih lanjut. Namun dalam penelitian selama 30 tahun terhadap alligator Amerika, yang termasuk keluarga buaya, terlihat adanya pembenaran dari aksioma tadi. Misalnya saja, pada tahun 1980 di Danau Apopka di Florida, yang merupakan habitat alligator Amerika, terjadi cemaran pestisida akibat bocornya instalasi sebuah pabrik kimia kecil. Para ahli saat itu tidak mengetahui apa dampaknya bagi buaya. Satu dekade kemudian, pakar zoologi Louis Guillete dari Universitas Florida menemukan dampaknya, yakni semua buaya di danau tsb ternyata betina atau kalau jantan penisnya amat kecil, sehingga tidak bisa kawin. Pestisida yang bocor satu dekade sebelumnya, diketahui memiliki sifat seperti hormon wanita estrogen. Walaupun kadarnya jauh di bawah ambang batas aman, namun pengaruh ekologisnya terlihat pada buaya-buaya yang menetas pada saat itu. Telur yang tadinya berkembang menjadi buaya jantan, secara mendadak berubah menjadi buaya betina, akibat paparan pestisida yang memiliki sifat serupa dengan hormon wanita estrogen. Dari peristiwa itu bisa ditarik kesimpulan, perubahan drastis di alam, mengubah secara drastis pula komposisi jenis kelamin pada buaya atau reptil secara umum. Jadi dipastikan ada pengaruh perubahan iklim global terhadap habitat buaya atau dinosaurus. Apakah buaya juga masih akan tetap survive jika terjadi pemanasan global. Para ahli biologi memastikan buaya akan tetap bertahan hidup. Binatang yang bisa lolos dari zaman es pasti dapat lolos dari pemanasan global. Hanya satu musuh yang dapat memusnahkan buaya yakni manusia, yang serakah dan tidak peduli pada kelestarian lingkungan.(muj)

Donasi membawa Anda ke halaman unduh seluruh artikel dalam 1 file yang simpel dan praktis.

Didukung oleh

Kelas Mikrokontrol e-Store
Toko online-nya
Kelas Mikrokontrol