Beritahu yang lain
 

Informasi asimetris dalam ekonomi

Informasi ternyata merupakan senjata ampuh, bukan hanya di bidang teknologi atau politik, tapi juga dalam bidang ekonomi. Barang siapa menguasai informasi, berarti dia juga menguasai pasar. Mereka yang memiliki informasi lebih banyak, memiliki posisi tawar menawar yang lebih tinggi. Penentuan harga serta fungsi pasar, ternyata juga dipengaruhi oleh asimetri informasi. Jika terjadi kekurangan informasi, para pihak penjual dan pembeli akan meninggalkan pasar, dan menyebabkan pasar runtuh fungsinya. Penelitian asimetri informasi dalam ekonomi, yang telah dilakukan sejak tahun 1966, membuahkan penghargaan tertinggi, berupa hadiah Nobel ekonomi bagi tiga orang ekonom AS, masing-masing George Akerlof, profesor ekonomi dari Universitas California, Michael Spence profesor ekonomi dari Universitas Stanford, serta Joseph Stiglitz, profesor ekonomi dari Universitas Columbia. Akademi ilmu pengetahuan kerajaan Swedia mengumumkan, hasil penelitian ketiga ahli ekonomi itu, merupakan inti ilmu ekonomi modern mengenai pasar dan informasi. Penelitian yang dilakukan pada tahun 70-an oleh para pemenang Nobel ekonomi tsb, merupakan landasan bagi berlakunya teori pasar dan informasi asimetris. Teorinya dapat menerangkan berbagai fenomena ekonomi, baik yang sudah dikenal maupun yang masih terasa asing. Teori asimetri informasi dapat diterapkan dalam spektrum amat luas, mulai dari pasar pertanian tradisional sampai ke pasar moneter modern. Di balik gagasan informasi asimetri, terdapat pemahaman bahwa di pasar, para pelakunya memiliki informasi yang tidak seragam. Dalam arti salah satu pemain pasar memiliki informasi lebih baik dari pemain lainnya. Pemahaman itu, merupakan kesimpulan yang ditarik dari berbagai pertanyaan umum yang selalu muncul di pasar. Misalnya, mengapa sukubunga di pasar pinjaman lokal negara-negara dunia ketiga begitu tinggi ?. Mengapa orang yang memerlukan mobil bekas, lebih suka mendatangi dealer ketimbang membeli dari perorangan ?. Mengapa perusahaan masih memberikan deviden, padahal beban pajak yang ditanggungnya lebih tinggi dari laba ?. Atau juga mengapa perusahaan asuransi masih menawarkan sederetan polis, yang tarif premi, cakupan dan tanggungan risikonya bermacam-macam ?. Jawabannya, bank-bank pemberi pinjaman, tahu lebih banyak nilai kredit yang diberikannya ketimbang peminjam. Dealer biasanya tahu lebih banyak mutu mobil yang dijualnya, ketimbang penjual pribadi. Para manajer puncak perusahaan, tahu lebih banyak ketimbang pemegang saham, mengenai laba perusahaan. Sementara pengambil polis asuransi, tahu lebih banyak mengenai risiko yang mereka hadapi, ketimbang perusahaan asuransinya. Akerlof dalam penelitiannya mengenai asimetri informasi dalam pasar, terutama mengambil fokus penjual mobil bekas. Alasannya, penjualan mobil bekas menunjukan dengan jelas, bahwa pedagang dan pembeli tidak memiliki akses yang sama terhadap sebuah informasi.  Spence lebih jauh menunjukan, bahwa pelaku ekonomi yang memiliki lebih banyak informasi, memiliki insentif untuk mengambil aksi yang diperhitungan dan mengandung risiko. Serta menunjukan pertanda kepada pelaku ekonomi lainnya yang kurang informasi, bahwa mereka memiliki kredibilitas. Hal itu tentu saja meningkatkan pendapatan bagi pelaku pasar yang memiliki informasi lebih banyak. Asimetri informasi, secara umum menggerakan pasar, karena yang kekurangan informasi, dapat menjaringnya dari yang kelebihan, dengan imbalan tertentu.
Misalnya penelitian Stiglitz di pasar asuransi. Di sini terjadi fenomena yang sebaliknya dari yang diteliti Akerlof dan Spence. Konsumen asuransi-lah yang memiliki informasi lebih banyak menyangkut kebutuhannya. Agen asuransi yang kekurangan informasi, dapat secara tidak langsung menyerap informasi dari pelanggan yang memiliki cukup informasi. Caranya, dengan menawarkan sejumlah menu kontrak asuransi yang sesuai dengan kebutuhan. Metode yang disebut "screening" ini, memberikan kebebasan bagi konsumen untuk menentukan sendiri polis yang akan diambil. Konsumen dapat memetik keuntungan, dengan memilih polis dengan nilai tanggungan tinggi, tetapi dengan premi rendah. Hasil penelitian ketiga pakar ekonomi tsb, dengan tegas membuktikan, asimetri informasi merupakan faktor utama penggerak pasar. Inilah inti ekonomi informasi modern. Hasil karya Akerlof, Spence dan Stiglitz mengubah cara para ekonom memandang fungsi pasar. Metode analitika yang mereka kembangkan, digunakan lembaga sosial maupun ekonomi untuk menjelaskan bermacam kontrak bisnis. Para peneliti lainnya mengembangkan model tsb, untuk menganalisis organisasi dan institusi, serta isu ekonomi makro, seperti politik moneter dan ketenagakerjaan. Penelitian ketiga pakar ekonomi selama dua dekade itu memang layak dianugerahi penghargaan paling bergengsi,hadiah Nobel ekonomi. Ketiganya meletakan dasar-dasar ekonomi modern dalam abad informasi ini. Mereka juga menjelaskan fenomena kepincangan ekonomi, akibat ketimpangan akses terhadap informasi. Aplikasi dari teori ekonomi asimetri informasi, ternyata dengan tepat menganalisis fenomena pemberian kredit yang sering macet di negara berkembang. Informasi personal yang seringkali keliru, menyebabkan pasar mengalami kegagalan fungsinya.(muj)

Donasi membawa Anda ke halaman unduh seluruh artikel dalam 1 file yang simpel dan praktis.

Didukung oleh

Kelas Mikrokontrol e-Store
Toko online-nya
Kelas Mikrokontrol