Beritahu yang lain
 

Makhluk hidup ekstrim

Kehidupan, ternyata juga muncul di habitat yang mematikan manusia. Makhluk hidup ekstrim mengubah pandangan, mengenai definisi kehidupan dan habitat pendukungnya. Kini diteliti, apakah ada kehidupan semacam itu di luar angkasa yang habitatnya amat ganas, jauh dari habitat Bumi kita yang nyaman. Sejak beberapa dekade terakhir, para ilmuwan terus berusaha melacak adanya kehidupan di luar Bumi. Yang paling aktual misalnya misi ke planet Mars, untuk mencari jejak air atau tanda-tanda kehidupan. Selama ini, gambaran ideal bagi munculnya kehidupan adalah adanya air serta temperatur yang nyaman. Namun ternyata kondisi kehidupan di Bumipun tidak seideal itu. Manusia memang mampu beradaptasi dengan lingkungan, dengan menyiasatinya menggunakan teknologi yang diciptakannya. Misalnya saja, jika terlalu panas, manusia menciptakan alat pendingin, dan jika terlalu dingin, membuat alat pemanas. Daftar rekayasa semacam itu sangat panjang. Tapi bagaimana dengan makhluk hidup yang tidak memiliki teknologi? Terutama makhluk hidup mikro semacam bakteri atau virus. Ternyata, daya adaptasi makhluk hidup mikro semacam itu, jauh lebih hebat dari manusia. Bakteri bersel tunggal misalnya, tidak mengembangkan peralatan, melainkan merekayasa dirinya, agar tidak mati dalam kondisi ekstrim. Bahkan terdapat sejumlah mikro organisme, yang justru betah hidup di habitat yang bagi makhluk lain amat mematikan. Misalnya di kawasan ekstrim panas atau ekstrim dingin, sangat kering atau sangat beracun. Makhluk hidup ekstrim semacam itu, dijuluki para ahli sebagai Extremophil. Keberadaannya baru diakui tahun 70-an, dan penelitian masih terus dilakukan dengan giat. Banyak manfaat dapat ditarik dari keberadaan bakteri ekstrim yang amat beragam jenisnya. Selain itu, gambaran ideal mengenai persyaratan kehidupan, juga bergeser amat jauh. Kini pencarian makhluk hidup di luar Bumi, tidak lagi terfokus pada pencarian makhluk pintar. Jejak kehidupan yang dicari di Mars misalnya, adalah adanya bakteri yang dapat hidup atau pernah hidup di planet merah tsb. Makhluk hidup ekstrim di Bumi, juga membuka cakrawala baru dalam penelitian asal-usul kehidupan di planet yang kita huni ini.

Hidup di habitat mematikan
Tentu muncul pertanyaan, seekstrim apa kehidupan mikro organisme itu? Para ahli biologi yang meneliti makhluk hidup ekstrem itu, membagi-bagi lagi kategorinya. Yakni yang hidup di lingkungan ekstra dingin atau yang sebaliknya yang hidup di lingkungan ekstra panas, yang hidup di habitat yang tidak mengandung oksigen, yang hidup di lingkungan keasaman atau kebasaan tinggi, yang hidup dalam habitat dengan kadar garam amat tinggi, di habitat bertekanan tinggi atau habitat amat kering, di habitat radioaktif serta yang dapat hidup dalam jangka waktu amat lama. Manusia pasti mati, jika suhu udara terus naik atau turun secara drastis. Namun terdapat sejumlah bakteri, yang justru habitatnya bersuhu sampai 200 derajat Celsius. Atau bakteri lainnya yang hidup di habitat sebaliknya, yang bersuhu sampai minus 40 derajat Celsius. Para ahli geologi yang meneliti jalur pegunungan di dasar laut, terkejut menemukan habitat kehidupan yang beragam, di sisi cerobong api di dasar lautan, dimana air panas yang mengandung gas methan dan belerang menyembur keluar dengan suhu sampai 200 derajat Celsius. Bakteri yang digolongkan ke dalam jenis thermophil itu, merupakan pengolah energi bagi seluruh kehidupan di habitat di cerobong api dasar lautan. Sebaliknya, terdapat juga bakteri yang hidup pada suhu amat dingin. Dalam penelitian danau Vostok di Antartika, para ahli melakukan pengeboran di danau yang membeku itu. Sampel es dari danau Vostok, yang lapisannya dapat mencapai ketebalan hingga empat kilometer, menunjukan adanya kehidupan bakteri bahkan sampai kedalaman tiga setengah kilometer. Ketika sampel es pelan-pelan dinaikan suhunya, bakteri yang tadinya berada dalam fase tidak aktif, mulai menunjukan aktifitasnya. Rupanya selama hidup pada suhu dingin, bakteri menurunkan aktifitas kehidupannya hingga batas minimal. Dua contoh itu saja menunjukan, gambaran mengenai terbentuknya kehidupan di Bumi sudah lama berubah drastis. Belum lagi mikro organisme lainnya, yang juga hidup dalam habitat ekstrim. Misalnya bakteri atau jamur yang hidup dalam habitat kimiawi yang bagi organisme lain amat mematikan. Ada yang digolongkan sebagai acidophil, karena berkembang biak di habitat amat asam seperti air aku. Atau sebaliknya, yang digolongkan sebagai alkalophil, hidup di habitat amat basa seperti soda. Ada yang digolongkan sebagai halophil, yakni bakteri atau makhluk hidup bersel tunggal lainnya, yang hidup dalam habitat dengan kadar garam tinggi. Atau juga terdapat bakteri yang hidup di timbunan sampah radioaktif.

Definisi baru├┐makhluk hidup
Berkaitan dengan keberadaan makhluk hidup ekstrim itu, muncul pertanyaan berapa banyak gen yang dibutuhkan, untuk menunjang kehidupan? Prof. Dr. Karl Stetter dari Universitas Regensburg di Jerman, adalah salah seorang perintis penelitian mikroorganisme ekstrim ini mengatakan, jika definisi mengenai kehidupan ini belum terjawab, akan sulit membuka pengertian mengenai asal-usul kehidupan itu sendiri. Apakah kehidupan di Bumi berasal dari Bumi sendiri, atau dari angkasa luar? Semua kemungkinan masih terbuka. Apalagi kalau di kemudian hari, dalam misi penelitian ke planet di luar Bumi, juga ditemukan makhluk hidup. Dengan mengetahui sifat mikro-organisme ekstrim itu, juga dapat diperkirakan terdapatnya habitat yang dapat menunjang kehidupan di planet lain, jauh di luar Bumi kita yang nyaman. Akan tetapi, apakah kehidupan itu dapat terbentuk atau tidak, itu soal lain. Misalnya saja mikro-organisme yang dapat hidup dalam temperatur ektra dingin dan hampir hampa udara, bisa saja menjadi makhluk hidup pengembara di luar angkasa, yang kondisinya memang cocok. Atau mikro-organisme yang umurnya panjang, hingga ribuan tahun, boleh jadi dapat tetap hidup dalam kondisi yang ibaratnya neraka. Itulah sebabnya Prof. Stetter mengatakan, misi-misi penerbangan ke planet lain di tata Surya, dapat lebih membuka cakrawala dan pengertian mengenai kehidupan. Dengan mempelajari sifat-sifat makhluk hidup ekstrim di Bumi, dapat ditarik analoginya dengan kemungkinan kehidupan di seluruh alam semesta. Misalnya saja di planet Mars. Jika benar terdapat sisa air, seperti yang ditunjukan oleh gambar-gambar yang dikirimkan robot peneliti Mars, kemungkinan dapat saja terdapat mikro organisme atau sisanya di planet merah itu. Namun prof. Stetter mengatakan, harus dilakukan penelitian jangka panjang, untuk membuktikan hipotesa tsb.

Kotak Pandora
Sejauh ini, manusia sudah mengetahui, di dalam tata Surya saja terdapat berbagai planet, yang kondisinya ideal untuk munculnya kehidupan. Misalnya salah satu satelit dari planet Yupiter, Europa, diketahui permukaannya ditutupi lapisan es tebal. Di bawahnya diduga terdapat lautan es cair dan juga lapisan dasar lautan. Di kawasan ekstra dingin, dengan tekanan amat tinggi semacam itu, jika membandingkan dengan kondisi Bumi, terbuka kemungkinan adanya makhluk hidup ekstrim. Demikian perkiraan optimis namun tetap hati-hati yang dilontarkan prof.Stetter. Bumi sendiri, juga terus menerus dihujani beragam benda kosmis. Artinya, jika ada kehidupan di luar Bumi, mikro-organisme ekstrim semacam ini sudah lama mendarat. Harus diakui, sejauh ini banyak mahkluk hidup mikro di awal pembentukan Bumi, tidak diketahui dari mana asalnya. Penelitian mikro organisme ekstrim, memang memiliki dua sisi seperti sekeping mata uang. Bisa bermanfaat bagi kehidupan, atau juga jika sial, seolah membuka kotak Pandora berisi mikro organisme pembunuh makhluk hidup yang sekarang eksis. Tapi itulah risiko yang tetap harus dihadapi, jika kita ingin tahu definisi kehidupan. (muj)

Donasi membawa Anda ke halaman unduh seluruh artikel dalam 1 file yang simpel dan praktis.

Didukung oleh

Kelas Mikrokontrol e-Store
Toko online-nya
Kelas Mikrokontrol