Beritahu yang lain
 

Protokol Kyoto untuk perlindungan iklim

Tema efek rumah kaca dan pemanasan global, telah memicu silang sengketa antar negara berpengaruh di dunia sejak hampir tiga dasawarsa terakhir ini. Dalam tema pemanasan global, dunia terbagi dua kubu yang pro dan kontra penurunan emisi gas rumah kaca.
Terutama sejak diketahuinya bolongnya lapisan ozon di atmosfir, serta mencairnya lapisan gletsyer serta salju abadi di kutub, tema perlindungan iklim menjadi semakin aktual. Tahun 1979 akademi ilmu pengetahuan nasional AS sudah melaporkan kaitan efek rumah kaca terhadap perubahan iklim global. Juga memperingatkan politik menunggu dan mengamati terlebih dahulu, yang akan berarti menunggu sampai semuanya terlambat.
Menanggapi tema yang berkaitan dengan nasib manusia itu, pada tahun 1992 PBB menggelar konferensi internasional membahas perubahan iklim global, yang diselenggarakan di Rio de Janeiro - Brazil. Dalam konferensi Rio, tercapai kesepakatan perlindungan iklim, dengan menurunkan emisi gas rumah kaca secara global. Akan tetapi, ternyata penerapannya tidak mudah. Untuk menetapkan, seberapa besar penurunan emisi gas rumah kaca, siapa yang memiliki kewajiban utama, serta bagaimana mekanismenya, diperlukan konferensi-konferensi lanjutan yang bertele-tele.
Jadi, memang wajar jika akademi ilmu pengetahuan nasional AS memperingatkan, akan terjadinya politik tunggu dan lihat. Ironisnya, justru pemerintah AS sendiri yang menerapkan politik semacam itu. Padahal AS merupakan produsen terbesar gas rumah kaca di seluruh dunia.

Protokol Kyoto
Dalam konferensi lanjutan di Kyoto pada tahun 1997, disepakati apa yang disebut Protokol Kyoto untuk pengurangan gas rumah kaca. Secara garis besarnya, negara-negara industri maju dibebani kewajiban, untuk mengurangi emisi enam jenis gas rumah kaca terpenting, sebesar rata-rata 5,2 persen dibanding emisi tahun 1990. Targetnya, pengurangan emisi itu harus sudah terwujud paling lambat tahun 2012 mendatang. Protokol Kyoto hanya berlaku sebagai kerangka acuan. Sementara rincian programnya yang amat rumit, dibicarakan lagi dalam perundingan-perundingan, agar tercapai kesepakatan yang mengikat.
Kesepakatan pengurangan emisi gas rumah kaca, sebesar rata-rata 5,2 persen bagi negara industri maju, bukannya mengada-ada. Sebab, menurut penelitian akademi ilmu pengetahuan nasional AS, produsen utama gas rumah kaca adalah negara-negara industri maju. Amerika Serikat pada tahun 1990 tercatat sebagai juara dunia, dengan memproduksi lebih dari enam milyar ton gas rumah kaca per tahun. Sementara Jerman pada tahun 1990, memproduksi gas rumah kaca sekitar 1,2 milyar ton. Jepang juga memproduksi sekitar 1,2 milyar ton gas rumah kaca pada tahun 1990 lalu.
Emisi gas rumah kaca, dalam dua abad terakhir ini, terutama dihasilkan oleh aktivitas manusia. Yakni dari fabrik modern serta kendaraan bermotor. Hal ini terlihat dari bukti, bahwa volume gas rumah kaca meningkat drastis dalam waktu sekitar dua abad terakhir, setelah berlangsungnya revolusi industri. Menurut catatan, sejak awal abad ke 20, suhu rata-rata di Bumi meningkat sekitar 0,6 derajat Celsius. Jika dilihat angka kenaikannya, orang awam mungkin akan menilai tidak seberapa. Akan tetapi panel antar pemerintah untuk perubahan iklim IPPC, melaporkan sudah mulai munculnya gejala pemanasan global. Gambaran kolektif menunjukan, Bumi semakin panas dan terjadi perubahan dalam sistem iklim.

Bukti pemanasan global
Para ahli meteorologi juga melaporkan pengamatannya, menyangkut bukti dari gejala pemanasan global. Antara lain, terus mencairnya lapisan gletsyer abadi di berbagai pegunungan. Menipisnya lapisan es di Antartika sampai sekitar 40 persen dalam 40 tahun terakhir ini. Naiknya permukaan air laut tiga kali lebih cepat, dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Serta perubahan perilaku dan cakupan habitat kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan, sebagai respons atas terjadinya perubahan iklim. Skenario paling mengerikan dari pemanasan global, adalah perubahan iklim secara dramatis, yang akan membunuh ratusan juta manusia.
Dalam laporannya, IPPC juga menyampaikan ramalannya, mengenai laju pemanasan global, apabila pengurangan emisi gas rumah kaca tidak dilakukan secara serius. Jika peningkatan emisi gas rumah kaca dunia, tetap dengan kecepatan seperti saat ini, dalam waktu 100 tahun mendatang, suhu rata-rata di Bumi diramalkan akan naik antara 1,5 sampai 5,8 derajat Celsius.

Dampak mengerikan
Dampaknya, muka air laut akan naik antara sembilan sampai 88 centimeter, yang menyebabkan tenggelamnya sejumlah negara kepulauan kecil. Selain itu erosi pantai akan meningkat drastis serta banjir besar jika terjadi badai. Sistem termostat dunia, yang menjaga keseimbangan kadar gas karbondioksida akan runtuh.
Akibat suhu bumi yang semakin hangat, serangga pembawa penyakit, seperti nyamuk malaria atau binatang pengerat inang penyakit sampar, akan hidup sepanjang tahun dan habitatnya meluas hingga ke kawasan yang sebelumnya dingin dan mematikan. Selain penyebaran penyakit manusia, penyebaran hama pertanian juga semakin luas. Selain itu, akibat perubahan iklim secara drastis, di sebagian wilayah dunia akan terjadi gagal panen akibat kemarau panjang, sementara di kawasan lainnya lahan pertanian hancur dilanda banjir.
Itulah gambaran mengerikan, yang diprediksi oleh panel iklim antar pemerintah-IPPC pada tahun 1995 yang lalu. Menyadari ancaman bencana yang mengintai, banyak negara yang mengambil prakarsa, untuk mendorong agar Protokol Kyoto dari tahun 1997 diratifikasi oleh negara-negara penghasil utama gas rumah kaca. Sejauh ini, sudah 141 negara yang meratifikasinya. Akan tetapi, juara dunia produsen gas rumah kaca, yakni AS di bawah pemerintahan presiden George W.Bush, pada tahun 2001 lalu menyatakan keluar dari Protokol Kyoto. Alasannya, AS akan mencari modus lain dalam perlindungan iklim.
Mulai tanggal 16 Februari 2005, Protokol Kyoto dinyatakan berlaku hingga tahun 2012 mendatang. Artinya, negara-negara penghasil utama gas rumah kaca, harus sudah mulai mengurangi produksinya. Ironisnya, trend emisi gas rumah kaca menunjukan kebalikan dari sasaran Protokol Kyoto. Misalnya saja, dalam 10 tahun terakhir emisi gas rumah kaca AS justru naik 13 persen, Jepang naik 12 persen, Kanada naik 20 persen, Australia naik 22 persen dan Spanyol naik 15 persen. Negara yang benar-benar serius menurunkan emisi gas rumah kaca, mungkin dapat dihitung dengan jari. Jerman misalnya turun emisinya sebesar 21 persen, Denmark turun 21 persen, Belanda turun 6 persen. Juga Rusia turun 38 persen, tapi bukan hasil dari usaha nyata menurunkan emisi, melainkan akibat bangkrutnya industri di negara itu. Dunia memang tidak akan kiamat akibat pemanasan global, tapi manusia penghuninya yang akan menderita akibat perubahan iklim global.(muj)

Donasi membawa Anda ke halaman unduh seluruh artikel dalam 1 file yang simpel dan praktis.

Didukung oleh

Kelas Mikrokontrol e-Store
Toko online-nya
Kelas Mikrokontrol