Teknologi Terapan
Pernahkah Anda merasa frustasi karena Anda tidak mengerti
cara kerja kamera atau telepon genggam yang baru Anda beli?
Padahal, teknologi seharusnya mempermudah, bukan sebaliknya
mempersulit hidup manusia.
Teknologi Terapan
Fungsi teknologi terapan adalah menjembatani riset yang
dilakukan para peneliti dengan teknologi yang dapat digunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Satu contoh riset teknologi
terapan adalah penelitian yang dilakukan tim pengembangan
Universitas Aachen di bawah pimpinan Florian Bley. Tim ini
sedang mengembangkan kursi roda yang dilengkapi lengan motorik
dan sistem navigasi.
Lengan motorik yang sedang dikembangkan tim Florian Bley sudah
dapat melakukan beberapa gerakan dasar. Lengan tersebut akan
ditempelkan pada kursi roda, sehingga dapat membantu pengguna
kursi roda untuk mengambil benda yang terletak di luar
jangkauan tangannya. Prototipe bernama 'Viktoria? ini adalah
kursi roda pertama di dunia dengan lengan mekanik. Kursi roda
tersebut rencananya juga dilengkapi dengan kamera dan sistem
navigasi. Pimpinan riset Florian Bley menjelaskan, pengguna
kursi roda dapat menentukan tujuannya dengan sebuah layar
sentuh. 'Viktoria? lalu memperhitungkan sendiri rutenya,
sehingga pengguna kursi roda dapat bergerak bebas dalam ruangan
maupun di jalan raya.
Kamera yang akan dipasang pada kursi roda ini berfungsi
memperluas jangkauan pandangan pengguna sekaligus membantu
navigasi kursi roda. Florian Bley menambahkan, untuk membantu
navigasi sebenarnya ada juga alternatif dengan memasang sensor
infra merah dan sensor supersonik yang sudah digunakan pada
sistem pemarkir mobil. Hanya saja, pemasangan sensor tersebut
akan memakan banyak tempat.
Florian Bley: "Kami memutuskan untuk menggunakan kamera saja,
karena kamera itu kecil dan tidak mengganggu pengguna. Hanya
saja, kamera ini tidak dapat memberikan informasi tiga
dimensional pada pengguna. Jadi, kamera hanya menunjukkan
gambar dua dimensi, pengguna tidak dapat memperkirakan, jarak
sesungguhnya antara benda yang terlihat pada layar dan kursi
roda.?
Pemecahan masalah ini menjadi fokus penelitian tim Florian Bley
saat ini. Selain itu, gerakan motorik lengan yang akan
ditempelkan pada kursi roda juga perlu disempurnakan. Saat ini,
lengan tersebut sudah dapat mengangkat dan meletakkan benda
kembali di tempatnya. Tetapi, gerakan motorik yang
lebihÿterperinci seperti menghitung uang kembalian atau
menempelkan perangko, belum dapat dilakukan ?Viktoria?. Florian
Bley memperkirakan, penyempurnaan sistem kursi roda ini masih
akan makan waktu dua sampai tiga tahun. Waktu produksi sampai
kursi roda ?Viktoria? dapat dibeli di pasaran diperkirakan
selamaÿdua tahun. Jadi, dari Iahirnya sebuah ide sampai
pemasaran butuh sekitar sepuluh tahun.
Florian Bley: ?Pada dasarnya, beda sistem kami dengan yang
lainnya adalah kami benar-benar hanya menggunakan kamera, baik
itu untuk navigasi maupun untuk manipulasi atau menggerakan
lengan. Kursi roda yang beredar di pasaran sekarang masih
banyak menggunakan sistem kombinasi, jadinya sangat rumit
dengan banyak sensor. Kami mengembangkan sistem yang langsing,
hanya menggunakan layar dan kamera yang yang kecil tetapi
kompak. Karena itu, sistem ini bisa dikatakan unik.?
Tetapi, apakah pengguna mau membayar 40.000 Euro atau sekitar
Rp 480 juta untuk satu kursi roda dengan sistem yang unik ini,
masih perlu dibuktikan.
Telemedicine
Sementara tim riset Universitas Aachen masih harus
menyempurnakan sistem kursi roda 'Viktoria?, para peneliti
Universitas Bonn sedang menguji teknologi terapan
'telemedicine?. Yang dimaksud dengan 'telemedicine? adalah
pemberian informasi dan pelayanan medis jarak jauh dengan
menggunakan sarana komunikasi audio, visual dan data.
Riset yang dilakukan Universitas Bonn terfokus pada sistem
pengenalan dini penyakit jantung atrial fibrilasi. Atrial
fibrilasi adalah penyakit di mana denyut jantung penderita
tidak teratur. Penderitanya sering merasa pusing dan keluar
keringat dingin. Sering kali gejala tersebut disalahartikan
oleh pasien atau dokter. Padahal, bila tidak segera ditangani,
dapat muncul bekuan darah yang menggumpal dan menyumbat
pembuluh darah. Gumpalan ini dapat berpindah dan pasien akan
mengalami stroke iskemik atau stroke akibat penyumbatan
pembuluh darah ke otak.
Para peneliti Universitas Bonn sedang mengembangkan suatu
sistem pengenalan dini yang bekerja dengan sistem ?Short
Message Service? (SMS) melaluiÿtelepon genggam. Mereka
mengembangkan alat pacu jantung dengan sensor yang mencatat
denyut jantung pasien dan mengirimkan data tersebut kepada
dokter yang merawat. Pemimpin riset Universitas Bonn Thorsten
Lewalter menjelaskan cara kerja alat tersebut.
Thorston Lewalter: "Alat pacu jantung ini dilengkapi dengan
antena yang mengirimkan sinyal kepada penerima, biasanya
berbentukÿtelepon genggamÿyang terletak di dekat pasien.
Misalnya di atas meja dekat tempat tidurnya.ÿTelepon
genggamÿini mengirimkan pesan singkat kepada 'servicecenter'
yang meneruskannya kepada kami dalam bentuk pesan
internet.?
Telepon genggamÿini bentuknya sama denganÿtelepon genggamÿbiasa
dan bisa dibawa ke mana saja. Dengan demikian para pasien
merasa lebih aman dalam melakukan kegiatan sehari-harinya. Bila
muncul masalah, dokter dapat bertindak cepat, misalnya dengan
menelpon pasien agar melakukan check up, atau mengganti jenis
dan jumlah obat yang harus diminum.
ThorstonÿLewalter: "Sistem ini merupakan bagian dari
'telemedicine' atau 'homemonitoring'. Di masa depan, sistem ini
dapat memonitor denyut jantung, berat badan pasien, atau
keteraturan pernafasannya. Semua data ini dapat digunakan dalam
perawatan individual setiap pasien dan akan ada kontak langsung
antara pasien dan dokter, 24 jam dalam sehari. Saya yakin, di
masa mendatang, konsep seperti ini akan menjadi standar dalam
perawatan. Tentunya, tantangan yang dihadapi sekarang adalah
para dokter harus mempersiapkan sarana untuk kontak langsung
ini.?
Tetapi teknik pun tidak dapat menjadi jaminan seratus persen.
Jaringan telepon genggam kadang mengalami gangguan.ÿAlat pacu
jantungÿjuga dapat memberi informasi yang salah. Pasien harus
tetap 'check-up' secara rutin. Dan tentu saja, sistem
pengawasan seperti ini menimbulkan pertanyaan soal privasi
pasien. Apakah pasien akan mengijinkan monitoring yang
sedemikian rupa? Di sini setiap orang harus memutuskan, apakah
ia ingin mengorbankan privasi tetapi dapat pergi berlibur atau
hidup sendiri. (muj)
|