Header Graphic
Beranda E-learning Training Download Lain-lain Kontak
 

Resistor

Resistor adalah komponen elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia berfungsi sebagai pengatur arus listrik. Dengan resistor, arus listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Sebagai gambaran tentang bagaimana prinsip kerja dari sebuah resistor,  anggap saja ada arus air itu sebagai arus listrik, sedangkan bendungan sebagai resistornya maka besarnya arus tergantung dari besar kecilnya pintu bendungan yang dibuka. Semakin besar terbukanya pintu bendungan, semakin besar juga arus yang melewati bendungan tersebut, jadi bila kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansi (tahanan)-nya kecil, bila mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Seperti itulah kira-kira fungsi Resistor dalam sebuah rangkaian elektronika.

Sebagaimana kita ketahui tentang satuan atau besaran, misalnya untuk berat kita tahu bahwa pada umumnya satuannya adalah "gram", satuan jarak pada umumnya orang memakai satuan " meter ". Resistor satuannya adalah OHM, jadi mulai sekarang kita biasakan untuk menyebut besarnya nilai suatu resistor atau tahanan kita gunakan satuan OHM, yang berasal dari kata OMEGA. Maka tidaklah heran bila lambang dari OHM berbentuk seperti tapal kuda orang yunani menyebutnya omega. Jadi bila nanti melihat rangkaian elektronika dan disitu tertulis 470 maka itu adalah sebuah resistor dengan nilai 470 OHM.

Didalam rangkaian elektronika resistor dilambangkan dengan angka " R " , sedangkan icon nya seperti ini : . Ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain : Resistor Carbon, Wirewound, dan Metal Film. Ada juga Resistor yang dapat diubah-ubah nilai resistansinya antara lain : Potensiometer dan Trimpot. Selain itu ada juga Resistor yang nilai resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR ( Light Dependent Resistor ) dan Resistor yang yang nilai resistansinya berubah tergantung dari suhu disekitarnya namanya NTC ( Negative Thermal Resistance ).

Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor
Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor

 

Potensiometer L D R N T C Trimpot
Lambang-lambang dari beberapa Jenis Resistor

Untuk resistor jenis carbon maupun metalfilm biasanya digunakan kode-kode warna sebagai petunjuk besarnya nilai resistansi ( tahanan ) dari resistor. Kode-kode warna itu melambangkan angka ke-1, angka ke-2, angka perkalian dengan 10 ( multiflier ), nilai toleransi kesalahan, dan nilai qualitas dari resistor. Kode warna itu antara lain Hitam, Coklat, Merah, Orange, Kuning, Hijau, Biru, Ungu, Abu-abu, Putih, Emas dan Perak (lebih lanjut lihat gambar dan tabel dibawah ).

KODE WARNA APPLET WARNA NILAI TOLERANSI
Hitam   0 -----
Coklat   1 -----
Merah   2 -----
Orange   3 -----
Kuning   4 -----
Hijau   5 -----
Biru   6 -----
Ungu   7 -----
Abu-abu   8 -----
Putih   9 -----
Emas   0,1 10 %
Perak   0,01 1 %

Sekarang kita mencoba membaca nilai suatu resistor. Misalkan sebuah resistor dengan kode warna sebagai berikut : Coklat, merah, merah, dan emas. Berapa nilai resistansi dari resistor tersebut..?. (Catatan: Untuk membaca angka pertama dari kode warna resistor anda harus melihat warna yang paling dekat dengan ujung sebuah resistor dan biasanya untuk angka ke-1,2 dan 3 saling berdekatan sedangkan untuk kode warna dari toleransi agak jauh dari warna-warna yang lain, perhatikan gambar dan tabel diatas)

Untuk membaca kode warna resistor seperti yang contoh diatas, mulailah menerjemahkan satu persatu kode tersebut. Warna pertama Coklat, berarti angka 1, warna kedua warna merah, berarti angka 2, warna ketiga warna merah berarti multiflier, perkalian dengan 10 pangkat 2. kalau diterjemahkan 12 X 10 2 = 12 X 100 = 1200. Berarti 1200 Ohm. dengan nilai toleransi sebesar 10 %. Akurasi dari resistor tersebut berarti 1200 X ( 10 : 100 ) = 1200 X ( 1 : 10 ) = 120. Jadi nilai sebenarnya dari resistor tersebut adalah maximum 1200 + 120 = 1320 Ohm, sedangkan nilai minimum nya adalah 1200 - 120 = 1080 Ohm. Kenapa demikian ...?. Karena karakteristik dari bahan baku resistor tidak sama, walaupun pabrik sudah mengusahakan agar dapat menjadi standart tetapi apa daya prosesnya menjadi tidak standart. Untuk itulah pabrik menyantumkan nilai toleransi dari sebuah resistor agar para designer dapat memperkirakan seberapa besar faktor x yang harus mereka fikirkan agar menghasilkan yang mereka kehendaki.

Dalam prakteknya para designer sering kali membutuhkan sebuah resistor dengan nilai tertentu. Akan tetapi nilai resistor tersebut tidak ada di toko, bahkan pabrik sendiri tidak memproduksinya. Lalu bagaimana solusinya..? gunakan perhitungan matematika dan hubungan resistor bisa secara 
1. Cara SERIAL
2. Cara PARALEL
perhatikan gambar berikut:



Cara memasang Resistor cara Serial dan Paralel

Dengan Cara tersebut suatu nilai resistor dapat menjadi unik. Lalu bagaimana menghitungnya ?, mudah saja, untuk cara serial tinggal menambahkan saja nilai resistor 1 dan nilai resistor 2. ( R1 + R2 ) . Sedangkan untuk cara paralel anda dituntut untuk mengerti ALJABAR. Untuk cara paralel ditentukan rumus sebagai berikut : misalkan kita memparalel dua buah resistor, resistor pertama diberi nama R1 dan resistor kedua diberi nama R2, maka rumusnya adalah : 1/R= ( 1/R1 ) + ( 1/R2 )

Contoh : Kita mempunyai dua buah resistor dengan nilai berikut R1=1000 Ohm , R2=2000 Ohm, bila kita menggunakan cara serial maka didapat hasil R1+R2 1000+2000 = 3000 Ohm, sedangkan bila kita menggunakan cara Paralel maka didapat hasil :

1 / R = 1 / R1 + 1 / R2
   1 / R = (1/1000) + (1/2000)
   1 / R = (2000 + 1000) / (1000 X 2000) 
   1 / R = (3000) / (2000000)
   1 / R = 3 / 2000
  3R = 2000
   R = 2000 / 3
   R = 666,7 Ohm -----> Resistor Hasil Paralel.

Didukung oleh

KMK e-Store
Toko online mikrokontroler

PT. MWN
Penyedia layanan domain & hosting

Bank BCA
Bank BCA

Bank Mandiri
Bank Mandiri

PayPal
Solusi pembayaran global